Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

Cerita Motivasi/Classical Motivation Story (part 1 of 4)

Mencari Pekerjaan

Pada suatu ketika, tampak seorang pemuda yang sedang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dia sudah berhasil lolos di tes-tes pendahuluan. Dan kini, tiba saatnya dia harus menghadap kepada pimpinan untuk wawancara akhir. Setelah melihat hasil test dan penampilan si pemuda, sang pimpinan bertanya, "Anak muda, apa cita-citamu?"

"Cita-cita saya, suatu hari nanti bisa duduk di bangku Bapak, " jawab si pemuda.

"Engkau tentu tahu, untuk bisa duduk di bangku ini, tentu tidak mudah. Perlu kerja keras dan waktu yang tidak sebentar. Betul bukan?" Si pemuda menganggukkan kepala tanda setuju.

"Apa pekerjaan orang tuamu?" Lanjut si pimpinan kepada si pemuda.

"Ayah saya telah meninggal saat saya masih kecil. Ibulah yang bekerja menghidupi kami dan menyekolahkan saya."

"Apakah kamu tahu tanggal lahir ibumu?" Kembali pimpinan itu bertanya.

"Di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan pesta ulang tahun sehingga saya juga tidak tahu kapan ibu saya berulang tahun."

"Baiklah anak muda. Bapak belum memutuskan apakah kamu diterima atau tidak bekerja di sini. Tetapi ada satu permintaan bapak. Saat di rumah nanti lakukan sebuah pekerjaan kecil, yaitu cucilah kaki ibumu dan besok datanglah kemari lagi."

Walaupun tidak mengerti maksud dan tujuan permintaan tersebut, demi permintaan yang tidak biasa dan karena sangat ingin diterima bekerja, dia lakukan juga perintah itu. Saat senja tiba, si pemuda membimbing ibunya duduk dan berkata, "Ibu nampak lelah, duduklah Bu. Saya akan cuci kaki ibu."

Sambil menatap takjub putranya, si ibu menganggukkan kepala. "Anakku, rupanya sekarang engkau telah dewasa dan mulai mengerti."

Si pemuda pun mengambil ember berisi air hangat. Tak lama, sepasang kaki ibundanya yang tampak rapuh, berkeriput, dan terasa kasar di telapak tangannya itu mulai direndam sambil diusap-usap dan dipijat perlahan. “Ibu, terima kasih, Bu. Ibu telah bekerja berat selama ini untuk Ananda. Berkat kaki inilah Ananda bisa menjadi seperti hari ini,” ucapnya lirih, terbata-bata menahan tangis. Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kasih dan kelegaan.

Tiba keesokan harinya, sang pimpinan berkata, “Coba ceritakan, bagaimana perasaanmu saat kamu mencuci kaki ibumu?”

“Saat mencuci kaki ibu, saya mengerti dan menyadari akan kasih ibu yang rela berkorban demi anaknya. Melalui kaki ibu yang semakin berkeriput dan tampah rapuh, saya tahu, bahwa saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh demi membaktikan diri kepada ibu saya,” ucapnya tulus tanpa kesan mengada-ada.

Mendengar jawaban si pemuda, akhirnya si pimpinan menerima dia bekerja di perusahaan itu. Pimpinan itu yakin, seseorang yang tahu bersyukur dan tahu membalas budi kebaikan orang tuanya, adalah orang yang mempunyai cinta kasih. Dan orang yang seperti itu pasti akan bekerja dengan serius, sepenuh hati dan bertanggung jawab.

Pembaca yang berbahagia,
Seperti kata pepatah: tian tang shi zai ma ma de jiao xia – surga ada di telapak kaki ibu! Ungkapan ini sungguh mengandung makna yang sangat dalam, sebab, kasih ibu adalah kasih yang tiada tara dan tak terbalas dengan apapun. Karena itu, saya yakin, jika kita mendapatkan restu, apa lagi didukung oleh doa ibu, tentu semua itu merupakan dukungan yang mengandung kekuatan luar biasa, yang memungkinkan apa pun yang kita lakukan akan mendatangkan hasil yang maksimal dan penuh makna.

Untuk itu, selagi orang tua masih hidup, sudah selayaknya kita memberikan perhatian, layanan, dan mencintai mereka dengan setulus hati. Bila mungkin ada kesalahan yang dilakukan oleh orang tua sehingga membuat luka di hati, tidak perlu disimpan di hati. Apalagi dengan membalas dan menyakiti hati mereka. Ingatlah, pengorbanan orang tua, apalagi seorang ibu, tak akan bisa dinilai atau dihargai dengan materi apapun bahkan sampai akhir hayat mereka. Dengan menyelami arti pengorbanan seorang ibu, kita akan dapat menemukan ‘zhen zheng de ai’ = kasih sayang sejati.

“Kasih sayang dan pengorbanan orang tua, tak kan bisa dinilai dengan apa pun. Dengan menyelami arti pengorbanan ibu, kita akan menemukan dan memahami nilai kasih saying sejati”


Diambil dari buku 18 wisdom & success - Andrie Wongso.


English:
A young man was applying for a job in a big company. He had passed the first few tests, and now he was sitting in front of the general manager to have the final interview. After looking at the result of the tests and his appearance, the general manager asked him, “What’s your ambition?”

“My ambition is to sit on your chair one day, “ he answered.
“You know, it is not easy. You must work very hard for a long time. Do you understand this?”
The young man nodded.
“What do your parents do?” the general manager continued.
“My father passed away when I was young, sir. My mother is the bread earner. She sends us to school.”
“Do you know your mother’s birthday?” again the general manager asked.
“There is no tradition of celebrating birthdays in our family, sir. I don’t know her birthday.”
“Well, young man. I have not made any decision whether to accept you or not, but I have one task for you. When you are home, do this small thing: wash your mother’s feet. Come back here tomorrow.”

He did not understand why the manager asked him to do this. It was certainly an extraordinary request. However, he was willing to do it since he wanted the job badly. In the evening, he led his mother to a chair. “Mom, you look so tired. Let me wash your feet.”

Surprised., the mother looked at her son and nodded. “My son, you’ve grown up now. You seem to start understanding life.”

He took a pail of warm water, and soaked his mother’s feet in it. He rubbed and massaged the fragile, wrinkled, and withered feet gently. Feeling the rough and flaky feet in his hands, he shed tears down his cheeks. “Thank you very much, Mom. So far you have been working very hard for me. Because of these feet I can be what I am today,” he mumbled, trying hard to control his sobs. Then they hugged each other with a feeling of gratitude and relief.

The next day, the manager asked him, “Now, tell me what you felt when you washed your mother’s feet.”

“When I washed them, I realized how much she loved me. She sacrificed everything, even herself, for her children. Seeing my mother’s wrinkled and fragile feet, I know that I have to work very well as a way to pay respect to her,” he said wholeheartedly.

Hearing this, the manager decided to accept him. He believed that a young man who knew how to be grateful and to repay the kindness of his parents was a human being with big compassion. And a man with compassion would work seriously, with all his heart and responsibility.

Dear Happy Readers,
The saying goes, tian tang shi zai ma ma de jiao zia – heaven is under a mother’s feet. It has a very deep meaning because a mother’s love is unlimited. We will never be able to repay her kindness. I believe that our mother’s approval and blessing’s will be a very powerful support for us. With this support, whatever we do will give a wonderful and meaningful result.

Therefore, while our parents are still alive, it is our duty to attend to them, care for them, love them, and serve them whole heartedly. When our parents hurt us, do not bear a grudge. Do not even plan to take revenge. Just remember our parents’ sacrifices, especially our mother’s. We can never ever repay their kindness. Only when we understanding the meaning of our mother’s sacrifices can we find zhen zheng de ai real compassion.

Source: 18 wisdom & success - by Andrie Wongso

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me