Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

Cerita Motivasi/Classical Motivation Story (part 4 of 4)

Pengecut mau bunuh diri

Pada suatu hari, tampak seorang pemuda berdiri termangu-mangu di tepi sebuah jembatan dengan sungai yang berair deras dibawahnya. Sesekali matanya menerawang jauh, menarik napas panjang, dan jelas terlihat di wajahnya bahwa dia sedang frustasi dan putus asa. Si pemuda berkata sendiri, ”Semua kenikmatan duniawi telah aku cicipi. Aku pernah kaya, pernah bepergian ke tempat-tempat indah di seluruh dunia. Makanan lezat dan kenikmatan yang dapat dibeli dengan uang juga telah aku rasakan. Tetapi sekarang aku sungguh tidak bahagia. Keluargaku berantakan, anakku meninggal dunia, istriku pun pergi meninggalkan aku. Lalu, untuk apalagi aku hidup di dunia ini? Biarpun aku masih memiliki harta kekayaan, tetapi hatiku kosong dan menderita.” Setelah itu, si pemuda tampak bersiap-siap bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai.

Tetapi, pada saat yang bersamaan, datang seorang pengemis berpakaian kumal menghampiri dia. ”Tuan yang baik, tolong beri saya sedikit uang utk makan. Saya doakan semoga Tuan selalu sehat dan berumur panjang.”

Mendengar permintaan pengemis itu, si pemuda segera mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia mengambil semua uang yang ada dan memberikannya kepada si pengemis. Dia berkata kepada si pengemis, ”Ambillah semua uang ini”

”Semua ini?” Tanya si pengemis tidak percaya

”Iya, ambillah semua. Karena di tempat yang akan kutuju, aku tidak lagi memerlukannya,” kata si pemuda sambil mengalihkan pandangannya kembali ke arah sungai di bawah jembatan.

Si pengemis rupanya merasakan sikap pemuda yang agak janggal. Sambil memegang dan memandangi uang itu sejenak, kemudian cepat-cepat dikembalikannya uang itu sambil berkata, ”Tidak ah, tidak jadi. Aku memang seorang pengemis, tetapi aku bukan seorang pengecut. Ini, bawalah uang ini bersamamu ke sungai itu.” Pengemis itu pun segera pergi dari sana sambil berteriak lantang, ”Selamat tinggal tuan pengecut!”

Mendengar ucapan pengemis, pemuda yang ingin bunuh diri itu terpana kaget. Perasaan puas dan bahagia sejenak yang dirasakan karena bisa memberi uang ke pengemis, lenyap seketika. Dia sangat ingin si pengemis menerima pemberiannya, apalagi di saat ia akan mengakhiri hidupnya, tetapi itu pun tidak bisa.

Tiba-tiba, pemuda itu sadar, bahwa apa yang dirasakannya tadi, yaitu dengan memberi kepada orang lain, telah membuat dirinya merasa bahagia. Ini merupakan sebuah perasaan dan pengetahuan baru bagi pemuda itu. Kemudian, dia kembali memandang ke arah sungai itu sekali lagi, lantas berpaling dan berjalan pergi mengejar si pengemis. Dia ingin mengucapkan terima kasih dan memberitahu bahwa dia tidak akan menjadi seorang pengecut. Dia berjanji di dalam dirinya, bahwa dia akan kembali berjuang, untuk mendapatkan kebahagiaan dengan memberi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pembaca yang budiman,

Begitu mengenaskan mendengar orang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas. Dan terasa lebih mengenaskan lagi kalau kita mendengar orang bunuh diri hanya gara-gara masalah sepele. Keberanian harus diletakkan dalam porsi yang benar. Karena hidup akan lebih mulia bila mental yang tertanam adalah ”berani hidup” daripada ”berani mati”

Kita melakukan itu semau karena sebuah alasan yaitu: ren sheng shi yi zhong ze ren, hidup adalah tanggung jawab! Laksana seorang pejuang, apapun medan pertempuran di depan yang akan kita hadapi, kita harus punya keyakinan, bahwa kita punya kewajiban untuk menyelesaikannya. Kita punya tanggung jawab untuk menjalaninya. Apapun hasil nantinya, nilai kenikmatan sejati sebenarnya terletak pada proses perjuangan itu sendiri. Apalagi, jika hasil perjuangan itu bermakna pula bagi orang lain.

Karena itu, hidup kita juga akan jauh lebih bermakna jika kita bisa memberi sesuatu kepada orang lain. Itulah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia. Dan jika ini kita sadari sepenuhnya dan kita perjuangkan dengan tekat kuat dilandasi ketulusan hati, maka kesuksesan yang kita raih akan jauh lebih berarti. Dengan begitu, saat menghadapi tantangan, mental kita akan semakin terlatih dan siap menghadapinya dengan penuh keberanian. Mari, jauhkan diri dari sikap berani mati secara pengecut, tetapi breani hidup secara ksatria. Maka 'huo zhe geng you yi yi', hidup akan jauh lebih bernilai.

Source: 18 wisdom & success - by Andrie Wongso


English:

A Suicidal Coward

A young man was standing thoughtfully on a bridge. The currents of the river below were very strong. With a far-away look in his eyes, he would sometimes sigh. He was frustrated and desperate. Then a thought arose in him, “I am very rich. I have known all the pleasures of this world. I have visited the most beautiful places, tasted the most delicious foods, and enjoyed all the pleasures that money could buy. Yet I am very unhappy now. My family is falling apart. My children died and my wife left me. I can not stand it any longer. Although I still have my wealth, my hearth is so empty and I suffer a lot.” He intended to commit suicide by jumping into the raging water.

When he was about to do it, a filthy beggar approached him, “Sir, please give me some money to buy some food. I will pray for your health and long life”

Hearing this, he took out the wallet from his pocket. He took all his money and gave it to the beggar, “Take all of this,” he said.

“All of this?” the beggar repeated. He could not believe his luck.

“Yes, take it all. I am going to a place where I won’t need it any more,” said the man. He looked back at the river below.

The beggar felt something was wrong in this man’s attitude. After looking at the money and holding it for a while, he hurriedly returned it and said, “No, I won’t take it. I am a beggar but I am not a coward. I don’t want to receive any money from a coward! Bring your money with you to the river.” He walked away quickly and shouting, “ Good bye, Mister Coward!”

Hearing what the beggar said, the man was very shocked. The satisfaction and happiness of giving his money to the beggar disappeared instantly. He really wanted the beggar to accept his money before he committed suicide, but the beggar refused it.

At that moment, he suddenly realized that the feeling that he felt just now, the good feeling coming from giving others in need, had given him happiness! It was a new feeling and experience for him. He looked at the river one more time, turned around, and walked away – trying to catch up with the beggar. He wanted to thank him and tell him that he did not want to be a coward. He promised himself that he would keep struggling to attain happiness by giving those in need.

Dear kind readers,
It is a shame to see someone end his life by committing suicide, especially over a simple matter. Courage should be put in the right place. Life will be more respectable if we have “the courage to live” rather than “the courage to die”

What is the reason behind this? Life is a responsibility, ren sheng shi yi zhong ze ren. As warriors, no matter what kind of battles we are going to face, we must have the confidence that we have the responsibility to come to the finish line! We have the duty to carry on. Regardless of the results, the true enjoyment lies on the struggling process. The satisfaction will even be greater if the results are also beneficial for others.

How meaningful our life is if we can give something to others. It is one of our responsibilities as a human being. If we truly understand this and do it sincerely, the success we gain will even be more valuable. This way, when we meet challenges, our mentality is already well trained so that we can face them courageously. So, let us restraint from dying a coward and fill our life with the courage to live as a warrior, huo zhe geng you yi yi. Life is worth living!

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me