Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

JENDELA KOTOR

’Jendela kotor’ bisa mempengaruhi penilaian kita terhadap orang lain atau sebuah masalah. Maka, simak artikel mini ini dan semoga bermanfaat...

Bagaimana ’jendela kotor’ bisa mempengaruhi penilaian kita kepada orang lain? Bisa. Dan kisah ini disampaikan atau diceritakan kembali oleh Pak Sudarman, Wakil Presiden Direktur PT Dipo Star Finance kemarin dalam pelatihan sikap mental di Semarang.

Alkisah, ada sepasang suami isteri yang pindah ke sebuah apartemen. Apartemennya mempunyai jendela depan, yang kebetulan menghadap kamar atau blok dari orang lain atau tetangga.

Pada keesokan harinya, setelah mereka bangun, sang isteri melongok ke luar jendela dan melihat tetangga apartemen yang tepat berada di depannya sedang menjemur kain-kain dan pakaian pada tali-tali jemuran. Ia lalu berkomentar sambil menepuk sang suami, ”Mas..mas..coba lihat. Itu tetangga kita tidak bisa menyuci pakaian dengan benar. Masa kain-kainnya pada masih kotor.” Sang suami ikut melihat, lalu hanya berkomentar, ”Ya sudahlah Ma..biarkan saja.”

Padi hari kedua di pagi hari setelah bangun, kembali si isteri tersebut menjenguk jendela dan mendapati tetangga tersebut sedang menyuci dan menjemur kain-kain serta pakaiannya. Kembali sang isteri mengajak suaminya untuk melihat dan berkomentar, ”Itu lho Mas, masa nyucinya nggak bersih lagi. Pakaian-pakaian mereka masih kotor.” Sang suami tidak menanggapi dan meminta isterinya untuk tidak terlalu ambil pusing dengan urusan tetangga mereka.

Pada hari ketiga, si isteri itu masih juga melihat jendela dan menemui kejadian yang sama, lalu kembali berkomentar pada suaminya, ”Mas, coba deh lihat...masa sih sudah menikah mereka nggak bisa nyuci dengan benar. Lihat saja pakaian atau kain-kain itu masih juga kotor, kurang bersih.”

Sang suami yang mulai bosan melihat hal ini, bangun pada keesokan harinya pagi-pagi betul sebelum isterinya bangun. Ia segera mencuci jendelanya di bagian luar dan dalam sampai benar-benar bersih. Kemudian, isterinya bangun dan melanjutkan ritual yang sama dan melihat jendela kembali. Sang isteri terlihat kaget dan berseru, ”Mas..mas..lihat! Sekarang mereka bisa tuh menyuci pakaian dengan bersih.” Sang suami menjawab dengan santai, ”Bukan cuciannya yaang tidak bersih, tetapi jendela kita yang kotor. Tadi subuh-subuh aku bersihkan jendela kita sampai mengkilap. Sekarang, jemuran tetangga kita jadi terlihat bersih kan?” Mendengar itu sang isteri menjadi malu hatinya, karena menyangka buruk pada orang lain, karena ternyata yang buruk adalah alat pandangnya yang kurang baik.

So ladies and gentlemen, mungkin saja anda pernah mendengar cerita ini sebelumnya, tetapi rasanya baik untuk kita renungi kembali. Kita mungkin pernah menilai orang lain tidak pas, tidak benar atau salah dalam tindakannya. Tentunya, yang tidak sesuai dengan yang kita persepsikan atau harapkan. Namun rupanya, kita harus hati-hati dalam menyikapi hal ini, karena kita harus mencoba melihat dulu, apakah jangan-jangan kita yang mempuyai konsep salah, cara/sudut pandang salah, atau...alat untuk memandangnya yang kurang pas.

Misalnya, jika hanya melihat dari sudut pandang HAM, orang hampir pasti akan selalu mengutuk Nichollo Machiavelli, dengan teorinya untuk ’menghalalkan segala cara’ dalam mencapai tujuan. Ternyata, ada latar belakang menarik yang memaksa Machiavelli untuk mengeluarkan teori seperti itu. Pada jaman itu, Italia sangat dikuasai oleh jenggo-jenggo, bandit dan mafioso-masioso bersenjata yang amat kuat, yang membuat negara menjadi rapuh. Melihat hal itu Machiavelli berpendapat bahwa untuk memulihkan negara, pemerintahnya harus kuat dan berani mengambil tindakan tegas nan keras untuk menumpas penjahat-penjahat yang menguasai negara. Kalau perlu, dengan segala cara...

Jadi, menurut para ahli, teori Nichollo Machiavelli dibuat karena keterpaksaan dan keterdesakan akan jaman yang amat keras/genting di kala itu. Bila kita mengkuti teorinya pada jaman kini yang relatif tidak genting, maka mungkin kita bisa dikatakan salah. Masih banyak lagi persoalan yang bisa kita coba telaah, apakah kita sudah membuat sudut pandang, cara pandang atau alat pandang yang sebenar-benarnya untuk melihat dan menilai....

Selamat melihat dan menilai dengan seobyektif mungkin...


Author: Unknown

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me