Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

Cerita dari Yordania - Putri Tercantik

Dahulu kala ada seorang raja yang mempunyai seorang putra. Raja itu sudah tua dan suatu hari ia merasa bahwa dirinya sudah tidak akan lama lagi hidup di dunia. Raja itu sangat sayang kepada rakyatnya, untuk itu harus ada orang yang menggantikan kedudukannya. Maka, dipanggilnya putranya yang bernama Pangeran Hasan utk menghadap.

Raja berkata, “Putraku, barangkali aku tidak lama lagi hidup. Karena itu, carilah seorang putri yang baik budi sebagai teman hidupmu, sehingga nanti jika engkau menggantikan aku menaiki tahta kerajaan, ada seorang permaisuri yang bijaksana duduk di sampingmu membantu engkau.”

Sedih hati Pangeran Hasan mendengar perkataan ayahnya itu. Tetapi, karena ia sangat taat kepada orang tuanya, maka ia pun bersembah sujud meminta berkat dari ayahnya sebelum berangkat mencari putrid yang baik budi itu.

Setelah seminggu dalam perjalanan, sampailah ia di istana yang terletak di tengah-tengah taman yang indah. Dan di dalam taman itu dilihatnya empat putri yang elok-elok rupanya. Dengan girang ia pun turun dari kudanya dan mengetok pintu gerbang istana itu. Melihat gagahnya pakaian tamu yang datang itu, maka serdadu pengawal pun segera membuka pintu dan Pangeran Hasan diiringi para prajurit menghadap Raja yang tinggal di istana itu.

Hati Raja sangat tertarik melihat Pangeran Hasan dan setelah didengarnya bahwa maksud Pangeran Hasan datang berkunjung ke istana itu adalah untuk meminang putrinya, ia pun bersuka hati dan segera disuruhnya ke empat putrinya untuk menghadap. Setelah berhias terlebih dahulu, maka putri-putri itu pun datang di hadapan ayahnya.

“Pilihlah, siapakah yang engkau sukai dari keempat putriku ini?” kata Raja kepada Pangeran Hasan.

Akan tetapi, Pangeran Hasan tidak dapat lagi berkata-kata karena demikian terpesonanya melihat kecantikan putri-putri itu. Ia tidak tahu siapa yang harus dipilihnya. Dan yang lebih mengagumkannya lagi ialah tangan putri-putri itu. Belum pernah dilihatnya tangan yang seelok itu. Yang sulung selalu melindungi tangannya terhadap sinar matahari, sehingga tangan itu nampak halus seperti gading.

Yang kedua memberi warna pada kuku-kuku jemarinya yang lentik bagai bulu landak sehingga nampak indah, yang ketiga membasahi tangannya dengan air bunga-bungaan, sehingga harum semerbak baunya. Hanya tangan putri bungsu lah tidak memakai hiasan apa-apa, sehingga nampak sederhana tapi bersih.

Pangeran itu ragu-ragu. Semua putri itu sama eloknya. Siapakah dari keempatnya yang harus dipilihnya menjadi calon istrinya? Ia benar-benar bingung. Kemudian ia pun mengundurkan diri. Ia hendak berpikir, mencari akal, bagaimana dapat diketahuinya siapakah dari putri-putri itu yang layak menjadi permaisuri.

Keesokan harinya, Pangeran Hasan datang kembali ke istana, tetapi bukan dengan pakaian yang indah-indah, melainkan menyamar sebagai seorang pengemis. Pakaiannya compang-camping dan di dagunya diikatkannya janggut palsu. Dari jauh sudah dilihatnya putri-putri itu sedang bermain-main di taman. Didekatinya taman itu dan diulurkannya tangannya dari celah-celah pagar meminta sedekah.

Putri-putri itu mula-mula terkejut melihat pengemis itu, tetapi kemudian menjadi marah dan jijik. Dipanggilnya pengawal supaya diusirnya pengemis itu. Hanya putri bungsu yang tidak memanggil pengawal. Ia sangat kasihan melihat peminta-minta itu. Dikeluarkannya uang dari sapu tangannya dan diberikannya secara langsung kepada pengemis itu seraya berkata, “Ini, Pak. Belilah makanan, dan kalau uang itu habis, datanglah kembali kemari, nanti akan kuberi lagi.”

Akan tetapi, dengan sekonyong-konyong pengemis itu membuka janggut palsunya serta topi rombengnya, dan dengan tercengang-cengang putri itu melihat Pangeran Hasan berdiri di hadapan mereka. Pangeran Hasan pun berkata, “Bukan tangan putih seperti gading, bukan jari-jari laksana duri landak, bukan tangan yang semerbak baunya, melainkan tangan yang diulurkan menolong yang miskin, itulah tangan yang seindah-indahnya.”


Kemudian putri yang bungsu itu pun dibawa Pangeran Hasan ke rumah orang tuanya dan ketika ia menggantikan ayahnya di atas tahta kerajaannya, putri yang baik budi itupun duduk di sampingnya sebagai permaisuri yang bijaksana.

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me