Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

Membangun Kreativitas Berbahasa Anak Melalui Cerita Boneka Tangan

Membangun Kreativitas Berbahasa AnakMelalui Cerita Boneka Tangan
(Oleh: Sulfi Alhamdi)
-Telah ditampilkan dalam seminar Nasional Bahasa da Sastra Indonesia XVI (HPBI)
di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
16-18 Mei 2008
Abstrak
Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia memiliki kendala dalam berbicara/berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Salah satu kendala tersebut adalah besarnya pengaruh penggunaan bahasa ibu tersebut terhadap kebiasaan dan kerangka berfikir mereka. Ketika seorang anak berada di lingkungan di mana ia harus berbahasa Indonesia (di sekolah), ide-ide kreatif mereka terhalang, karena berada dalam tekanan, bahwa apa yang diungkapannya harus berbahasa Indonesia yang bisa dimengerti oleh orang yang mendengarkannya pada saat itu. Dengan mendongeng dapat menciptakan suasana santai, sehingga anak bisa rileks dan menyatu dengan suasana yang tercipta ketika mendongeng sedang berlangsung. Dan pada akhirnya memunculkan kreativitas mereka dalam berbahasa yang bertujuan untuk mengungkapkan ide-ide kreativitas itu sendiri.

Pendahuluan
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Bahasa adalah alat komunikasi. Menurut Ricard (dalam Tarigan 1990 : 13) mengatakan bahwa komunikasi adalah pertukaran ide-ide, gagasan-gagasan, informasi dan sebagainya antara dua orang atau lebih. Ketika komunikasi itu berlangsung dalam satu komunitas bahasa tertentu maka proses penyampaian ide-ide tersebut tidak akan mengalami banyak masalah, begitu juga pada anak usia dini. Akan tetapi ketika mereka berbicara dengan bahasa Indonesia, terutama pada situasi formal di dalam kelas, mereka akan menemui kendala. Kendala tersebut tidak lain adalah penggabungan ide-ide tersebut dengan bahasa yang akan digunakan. Kita harus ingat dan tidak perlu malu bahwa buat sebagian besar rakyat kita, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua (Tarigan 1988 : 127).
Kemampuan berkomunikasi, berbicara dan berbahasa dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja. Mulai dari lingkungan keluarga kecil, keluarga besar, lingkungan sekitar tempat tinggal, dan sekolah. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa buat berkomunikasi. Hasil atau akibat pemerolehan bahasa, kompetensi yang diperoleh, juga merupakan bawah sadar (Tarigan 1988 : 127).
Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini secara formal dapat diperoleh di sekolah. Sekolah taman kanak-kanak (TK) yang ada, terutama di kota Palembang menawarkan berbagai macam program pembelajaran yang mendukung kemampuan berkomunikasi tersebut. Salah satunya adalah mengadakan kelas mendongeng. Selain mengembangkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi anak, mendongeng juga memiliki nilai hiburan terhadap anak. Banyak aspek pendidikan yang terdapat dalam mendongeng. Dongeng mengajarkan banyak hal selain itu tidak ada anak yang tidak suka mendengarkan dongeng.Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan dari buku atau dongeng yang telah sangat melekat di benak orangtua sehingga dapat disampaikan secara lisan dengan improvisasi di sana sini. Buktinya tokoh dalam dongeng akan selalu diingat oleh anak bahkan hingga mereka dewasa, baik yang baik maupun yang jahat. Ternyata dongeng memiliki banyak manfaat bagi anak. Sebut saja mengembangkan daya pikir dan imajinasi, kemampun berbicara, serta daya sosialisasi karena melalui dongeng anak dapat belajar mengakui kelebihan orang lain sehingga mereka menjadi lebih sportif (geodesy.gb.itb.ac.id : 2007).
Untuk mendongeng dibutuhkan kemampuan khusus bagi penyampainya. Dongeng lebih dikenal sebagai kegiatan yang dilakukan di rumah yang bertujuan untuk menidurkan anak, atau mengisi waktu senggang dalam keluarga. Menurut psikolog Bibiana Dyah Sucahyani (Electronical publishing, Batam Pos on line akses 16-04-2007, pukul 09.00) mengatakan bahwa di lingkungan keluarga mendongeng merupakan pola pendidikan yang paling ampuh dan efektif. Anak menjadi lebih mengerti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak, apa yang baik dan apa yang tidak baik, tanpa harus dengan cara memarahi. Dari sebuah kegiatan keluarga (non formal) dongeng dibawa ke sekolah sebagai salah satu pelajaran dengan berbagai macam tujuan pembelajarannya. Salah satunya adalah untuk meninggkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi komunikasi. Dongeng yang menjadi pilihan dalam makalah ini adalah dongeng dengan menggunakan boneka tangan. Boneka tangan yang bisa berbentuk (menyerupai) berbagai macam tokoh (biasanya tokoh binatang).
Mengapa memilih dongeng dengan boneka tangan? Menggunakan boneka tangan sebagai alat bantu akan membuat suasana kelas lebih berkonsentrasi pada cerita yang akan disampaikan. Selain sebagai alat bantu cerita, boneka juga bisa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi langsung dengan anak. Boneka bisa mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara langsung yang muncul dari anak. Interaksi komunikasi dengan anak bisa tercipta sehingga ide-ide kreatif dalam menggunakan bahasa mereka dapat disalurkan. Selain itu dengan boneka tangan, bahasa yang digunakan akan mempengaruhi cara anak dalam menanggapi pertanyaan atau dalam memberikan pertanyaan. Yang lebih penting lagi, mereka bisa berkomunikasi langsung menuangkan ide yang disesuaikan dengan topik cerita. Selain itu, menggunakan boneka tangan, ide cerita yang akan disampaikan akan sangat bervariasi. Si pendongeng/pencerita tidak harus menceritakan cerita-cerita legenda atau seperti dongeng pada umumnya, akan tetapi bisa mengangkat ide yang ada dalam kehidupan keseharian anak-anak. Atau lebih tepat dikatakan bahwa dengan bercerita menggunakan boneka tangan, maka cerita yang akan disampaikan adalah cerita tentang keseharian yang dialami anak-anak. Objek penelitian adalah di salah satu TK swasta yang ada di kota Palembang. Pelajaran mendongeng diberikan sebatas sebagai kegiatan kelas ekstra kurikuler.
Dalam kelas mendongeng ini melibatkan satu orang pencerita dan beberapa orang anak (10-15 orang) yang tergabung dalam satu kelas. Anak-anak duduk di lantai dengan posisi membentuk setengah lingkaran yang menempatkan posisi pencerita di tengahnya. Suasana kelas akan terasa sangat rileks, ketika pelajaran mendongeng dimulai. Pada saat pertama kali kelas mendongeng diperkenalkan, biasanya mereka sangat antusias dan bersiap-siap dengan gerangan apa yang akan terjadi. Pada kelas mendongeng berikutnya, sebelum mendongeng, biasanya beberapa orang anak akan memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan boneka tangan yang sudah terpasang. Kendala yang dihadapi seorang anak biasanya terletak pada penggabungan ide kreatif berbahasa dengan bahasa yang akan digunakan.
Pembahasan
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis yaitu suatu penelitian yang akan memaparkan data temuan dari sumber data yang ada dan kemudian dianalisis sesuai dengan landasan teori.Palembang adalah salah satu daerah di Indonesia yang bahasa ibunya bukanlah bahasa Indonesia. Palembang menggunakan bahasa Melayu Palembang dalam bahasa keseharian. Pengaruh bahasa Melayu Palembang sangat lekat dalam tata cara kehidupan orang Palembang. Beberapa unsur teori belajar yang mendasari PBK (Pengajaran Bahasa Komunikatif) bisa ditemukan pada beberapa kegiatan pengajaran bahasa komunikatif (Azies et all 2000 : 24) Dongeng atau cerita boneka tangan adalah salah satu dari kegiatan tersebut yang mendukung interaksi komunikasi dalam memancing ide-ide kreatif pada anak usia dini.
Bahasa Melayu Palembang dan Bahasa Indonesia tidaklah terlalu jauh berbeda, seperti halnya bahasa-bahasa daerah rumpun Melayu lainnya. Akan tetapi tetap saja bahasa daerah tersebut mempengaruhi penggunaaan bahasa Indonesia apalagi dalam situasi formal seperti di sekolah data proses pembelajaran. Dengan mendongeng atau bercerita dengan menggunakan boneka tangan akan membantu anak dalam mengatasi masalah tersebut. Hipotesis Konstarastif yang dikembangkan oleh Charles Fries (1945) dan Robert Lado (1957) menyatakan bahwa Kesalahan berbahasa yang dibuat dalam belajar B2 adalah karena adanya perbedaan B1 dan B2. Sedangkan kemudahan dalam belajar B2 disebabkan oleh adanya kesamaan antara B1 dan B2. Jadi adanya perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan; sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar B2. Cerita boneka tangan disampaikan kepada anak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena bahasa Melayu hampir tidak jauh berbeda degan bahasa Indonesia, maka proses pembelajaran bahasa tidaklah terlalu sulit. Dua hal antara B1 dan B2 yang dikutip di atas bisa memberikan gambaran bahwa antar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia bisa menjadi mudah dan menjadi hal yang menyulitkan anak dalam memahami kontek komunikasi formal ketika dongeng sedang berlangsung.
Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar; para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa buat berkomunikasi. Hasil atau akibat pemerolehan bahasa, kompetensi yang diperoleh, juga merupakan bawah sadar. Kita pada umumnya tidak menyadari benar-benar kaidah-kaidah bahasa-bahasa yang kita peroleh (Tarigan 1988 : 128). Bagaimana pun dalam penelitian ini data yang diamati adalah kalimat atau ucapan yang keluar dari anak, yang berhubungan dengan tema atau jalannya cerita.Seorang pencerita sebaiknya juga memahami tentang ide cerita yang akan dibawakannya. Seorang pencerita harus memiliki skenario dari cerita tersebut. Untuk tercapainya sebuah interaksi komunikasi dengan anak, maka seorang pencerita harus memenuhi beberapa kriteria atau aspek penting dari bahasa.Menurut Mar’at ada 3 Aspek Penting dari Fungsi Bahasa.
1. Speech Act.
Yang paling sering dijumpai adalah bentuk bertanya, pemberitahuan dan perintah. Peranan intonasi dan kontek pembicaraan mempunyai peranan penting dalam membantu pendegar menentukan fungsi yang dimaksud dalam suatu tuturan.Seorang pencerita harus menguasai seni penceritaan dongeng. Harus mampu menguasai intonasi, menjaga kestabilan jalan cerita, dan sanggup berkomunikasi dengan anak ketika dalam bercerita.
2. Thematic Structure.
Adalah penilaian tentang keadaan mental pada saat seseorang berbicara. Seseorang pembicara harus mempunyai gambaran kira-kira tentang apa yang ada pada pikiran pendengarnya pada waktu itu. Yaitu pada waktu ia berbicara. Ia harus memperhatikan hal-hal apa saja yang telah diketahui oleh pendengar dan hal-hal apa saja yang belum.Ketika menentukan satu topic cerita yang akan disampaikan, pencerita harus berupaya memahami penguasaaan kosakata yang ada pada anak. Bagaimana seorang pencerita bisa memakai kosakata lama/yang sudah dimengerti, dan memperkenalkan kosakata baru untuk mereka.
3. Propositional Content.
Karena pembicara ingin menyampaikan ide-ide tertentu kepada pendegar, maka kalimat yang dipilih harus pula merefleksikan jalan si pembicara mengenai objek, kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang ada.Menyederhanakan kalimat-kalimat untuk membantu anak memahami isi cerita adalah tugas seorang pencerita. Cerita yang dipilih pun idenya harus mengenai objek dan kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang ada.Ketika cerita akan dimulai dan sedang berlangsung, biasanya anak akan tetap fokus pada cerita yang akan disampaikan. Meskipun ada (banyak) di antara mereka yang kurang peduli. Akan tetapi mereka yang fokus pada cerita, akan memberikan reaksi baik dengan bahasa verbal maupun bahasa non-verval. Mereka mencoba memahami jalan cerita dengan ikut terlibat dalam cerita tersebut. Keterlibatan itu mereka tunjukan dengan menyela percakapan yang ada dalam cerita atau dengan menjawab pertanyaan pencerita, baik sebagai tokoh dalam cerita atau sebagai pencerita itu sendiri. Bahkan diantara mereka ada yang sengaja mengulang beberapa poin percakapan atau mengekspresikan dengan bahasa verbal dari prose cerita yang sedang belangsung. Proses kognitif yang terjadi pada waktu seseorang berbicara dan mendengarkan antara lain megingat apa yang baru didengar, mengenal kembali apa yang baru didengar itu sebagai kata-kata yang ada artinya, berfikir mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan dalam bentuk ujaran atau tulisan. (Mar’at 2005 : 1)

Mar’at menjabarkan proses kognitif yang terjadi pada saat seorang berbicara dan mendengarkan lawan bicaranya. Hal ini bisa dijabarkan pula ketika dongeng/cerita boneka sedang berlangsung.
1. Mengingat apa yang baru didengar.
Terkadang ada beberapa dari kosa kata yang diucapkan pencerita yang diulang kembali oleh anak sebagai ujud dari proses mengingat apa yang didengar. Mereka secara spontan mengungkapkan ide kreatif mereka.
Pre Test (tanpa boneka tangan)
Pencerita : “Kita harus rajin gosok…gigi. Siapa yang tahu bagaimana cara menggosok gigi?
Fajri, Salsa, Rio, Fajri : (mereka langsung menunjukan ekspresi bagaimana caranya menggosok gigi. Sambil mereka memahami arti gosok gigi dan menirukan mereka memperhatikan kawan-kawan yang lain untuk menyamakan ekspresi mereka.)
Test (dengan boneka tangan1)
Pencerita : (Rabbit) Teman-teman, aku kan belum pernah menggosok gigi, bagaimana ya caranya?
Fajri : Mak ini nah, Rabbit! (sambil memperagakan cara menggosok gigi)
Pencerita : Iya, Fajri Seperti apa?
Seperti ini.Salsa : (sambil memperagakan cara menggosok gigi)
Rio: Ya Rabbit, seperti ini, kamu bisa? (sambil memperagakan cara menggosok gigi)
Nita : (sambil memperagakan cara menggosok gigi)
Post test (dengan boneka tangan2)
Pencerita : (Rabbit) Aduh… gigiku sakit sekali. Aduh… tolong.
Fajri : Makanya jangan makan permen terus.
Salsa : Iya Rabbit, jangan makan permen.
Rio : Aku juga suka makan permen, tapi gigi ku tidak sakit.
Nita : Ya Rabbit, kamu harus rajin sikat gigi.
2. Mengenal kembali apa yang baru didengar.
Ketika pertama kali kelas mendongeng/bercerita dengan boneka, mereka belum mengenal apa pun tentang boneka tangan. Ketika mereka diberitahu bahwa nanti akan ada cerita boneka, yang ada dalam pikiran mereka adalah beberapa pertanyaan. Apa sih cerita boneka tangan itu? Seperti apakah cerita itu?
Kali berikutnya mereka telah mempunyai pengalaman dengan cerita boneka tangan. Lalu mereka berlomba untuk mengenal kembali apa yang telah mereka alami.
Pre Test (tanpa boneka tangan).
Pencerita : (Saat bercerita, anak-anak ada memperhatikan dan ada yang tidak peduli)
Fajri, Salsa, Rio, Nita : (hanya mendengarkan, sambil senyum, dan tertawa).
Test (dengan boneka tangan1).
Pencerita : (Saat mempersiapkan boneka, dan sebelum boneka disarungkan)
Fajri : Apo itu pak sulfi, Boneka yo?
Pencerita : Apa sayang, ya ini boneka kelinci, ini boneka beruang
Rio : Hey jingok itu, ado gambar wortelnyo (gambar wortel dibaju boneka kelinci).
Post test (dengan boneka tangan2).
Pencerita : Anak anak, apa warna si Rabbit?
Fajri : Pink, ada gambar wortel juga.
Salsa : Sama dengan boneka aku dirumah
Rio : Kalau Teddy warnya coklat
3. Berpikir mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan dalam bentuk ujaran.
Ketika mereka melihat/memperhatikan kedua boneka tangan, mereka mencoba memahai sesuatu terhadapnya. Ada beberapa hal yang mereka rasakan dan mereka mulai berpikir untuk mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan mereka.
Pre Test (tanpa boneka tangan)
Bercerita tanpa boneka tangan dilakukan pada saat pertama. Ketika itu belum ada reaksi yang diberikan anak.
Test (dengan boneka tangan 1).
Nita : eh, hidungnya lucu ya.
Rio : Rabbit, kamu bawa permen? Aku mau, dong!
Fajri : Kamu galak makan permen yo?
Post test (dengan boneka tangan2).
Rio : Halo Pak Sulfi apa kabar?, (pencerita), Halo Rabbit (boneka kelinci berwarna pink), Halo Teddy (boneka beruang berwarna coklat).
Fajri : Kok bonekanyo itu-itu terus ya
Pencerita : Iya nih, Pak Sulfi kan Cuma punya ini.
Dongeng/cerita boneka tangan akan memberikan kemudahan kepada anak dalam mempelajari bahasa sebagai bahasa komunikasi dalam menuangkan ide-ide kreatif mereka. Menurut Bilbiana dengan dongeng anak bisa mencerna lebih gampang keadaan yang terjadi disekitarnya dan bagaimana menyikapinya (Batam Pos on line). Dongeng/cerita boneka tangan bisa juga mengajarkan anak tanggap menghadapi situasi sesuai dengan topik cerita yang sedang berlangsung. Mereka kembali mengungkapkan ide kreatif mereka ketika mereka menginginkannya.
Pencerita : (Teddy) hey Rabbit, kamu kenapa? Gatal ya? Pasti kamu belum mandi.
(Rabbit) iya, aku….
Nita : Iya, nanti badannya bau. i… (sambil menunjukan ekspresi bau)
Rio : aku idak bauk.(sambil mencium baju di bawah dagu)
Siapa pun di dunia ini membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi. Manusia tidak lepas dari bahasa dalam kehidupannya. Segala aspek kehidupan berakar dari bahasa. Dengan bahasa kita bisa melakukan segala hal. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi (Chaer 2003 : 30).
Dalam mendongeng/cerita boneka tangan yang bertujuan untuk membantu anak dalam berinteraksi komunikasi guna memacu ide-ide kreatif mereka dalam berbahasa. Cara ini dianggap memenuhi lima fungsi dasar bahasa yang dirumuskan oleh Kinneavy (Chaer 2003 : 33)
Ke lima fungsi dasar tersebut adalah : (diamati ketika memberikan post test (cerita boneka 2))
Fungsi ekspresi. Pernyataan senang, benci, kagum, marah, jengkel, sedih. Dengan mendongeng/cerita boneka, baik pencerita maupun pendengar dapat mengungkapkan pernyataan senang, benci, kagum dll. Pencerita bisa memberikan pertanyaan agar anak menjawab atau bisa memancing anak untuk bertanya, sehingga ketika bertanyapun anak bisa mengekpresikan rasa kagum, senang, benci dan sedih.
Pencerita : Teman-teman, aku punya permen dan coklat, nanti kamu akan saya kasih, mau ya?
Fajri : Mau. Aku mau. Tapi nanti gigiku sakit.
Pencerita : Siapa yang tiap hari selalu mandi?
Salsa : Saya.
Nita : saya mandi pakai sampo.
Fungsi Informasi. Menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain. Dalam kelas mendongeng,baik pencerita ataupun si pendengar dapat menyampaikan pesannya kepada orang lain. Pesan tersebut adalah pesan-pesan yang biasanya mereka sudah pernah mendengarnya. Akan tetapi pada saat itu, kalimat tersebut muncul kembali karena adanya stimulus.
Pencerita : Teman-taman, kita tidak boleh terlalu banyak makan permen, nanti gigi kita sakit.
Rio : Ya, nanti gigi kita sakit.
Fajri : Nanti aku gosok gigi,
Nita : Gigi Adi ada hitamnya
Fungsi Ekplorasi. Menjelaskan sesuatu hal, perkara dan keadaan. Anak-anak yang kreatif pun mempunyai kesempatan untuk menjelaskan sesuatu. Ketika ia mengetahui sesuatu maka memalului stimulus, ia pun akan mencoba melakukan sesuatu untuk menjelaskan idenya.
Fajri : Rabbit warnanya pink!
Nita, Rio : Teddy warnanya coklat.
Pencerita : Kalau pak Sulfi warna bajunya apa?
Semua anak : Biru.
Fungsi Persuasi. Fungsi bahasa yang bersifat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melalkukan atau tidak melakukan sesuatu secara baik-baik. Pada tahap selanjutnya anak akan berusaha mengajak atau mendominasi temannya dengan kemauan dan keinginannya. Bahkan sering kali tejadi adu mulut diantara mereka untuk mempertahankan pendapatnya.
Pencerita : Teman-teman, rabbit tidak tahu cara menggosok gigi. Ada yang tahu cara menggosok gigi?
Semua Anak : i..i (sambil menunjukan cara menyikat gigi dengan gerakan kiri dan kanan.)
Pencerita : Kalau gigi depan, kita mesti mengosok seperti ini! (sambil mempergakan gerakan atas bawah)S
emua anak : Ini i..i.. (sambil menirukan gerakan dari pencerita, dan saling memperlihatkan kepada temannya.)
Fungsi Entertain. Fungsi untuk menghibur. Dalam percakapan sehari-hari antara pendengar dan pembicara pun terjadi kelucuan-kelucuan, entah itu dari bahasanya atau ekspresi dan gerak tubuh. Maka dalam mendongeng fungsi menghibur adalah unsur yang mutlak. Seorang pendongeng harus dapat menjalankan fungsi itu dengan baik.
Pencerita : Teman-teman, aku mau bernyanyi. Dengar ya.
Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis itu ku tidur lagi…
Fajri : hu…hu… bukan begitu Teddy. Aku bisa.
Penutup.
Banyak hal positif yang dapat kita sampaikan kepada anak dengan cara mendongeng/cerita boneka. Tidak hanya memancing mereka untuk berinteraksi komunikasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang lain. Berawal dari sebuah cerita pengantar tidur, kemudian menjadi kegiatan di waktu senggang, saat ini dongeng/cerita boneka telah menjadi sebuah kegiatan pengajaran di sekolah. Semoga dengan program ini, anak tidak hanya menjadi lawan bicara pencerita, tetapi juga diharapkan bisa sebagai pencerita, dan bisa menciptakan cerita dengan bahasa mereka sebagai wujud suksesnya penumpahan ide kreatif mereka dalam berkomunikasi.
Daftar Pustaka
Akbar-Hawadi, Reni. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Mengenal Sifat, Bakat dan Kemampuan Anak. Jakarta. PT. Grasindo.
Azies, Furqanul dan A Chaedar Alwasilah. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif. Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Batam. 2007. Mendidik Anak Melalui Dongeng. (artikel) Batam. Batam Pos On line.
Bunanta, Murti. 2003. Anak dan Minat Budaya. Dimanakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita? (Makalah Konggres Kebudayaan V, di Bukittinggi.)
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Kajian Teoretik. Jakarta. Rineka Cipta.
Mar’at. Samsunuwiyati. 2005. Psokolinguistik. Suatu Pengantar. Bandung. Refika Aditama.
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung. Angkasa.
_______. 1990. Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung. Angkasa.

Source: http://sulfialhamdi.blogspot.com/2008_03_01_archive.html

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me