Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

Cerita dari Amerika: Anak Pembuat Sabun

Namanya, Samuel. Ia adalah seorang anak pembuat sabun yang tinggal di sebuah kota kecil yang letaknya tidak jauh dari kota New York. Pekerjaan sehari-hari Samuel membantu ayahnya membuat sabun. Sudah bertahun-tahun mereka membuat sabun yang dijualnya kepada penduduk setempat, namun perusahaan mereka tidak maju-maju juga. Samuel dan ayahnya tetap hidup miskin. Bahkan, perusahaan mereka akhirnya bangkrut. Samuel terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan biaya.

Dalam keadaan terjepit, Samuel mengambil keputusan untuk mengadu nasib ke kota New York. Siapa tahu di kota besar itu hidupnya berubah. Ia tidak memiliki ketrampilan apa-apa, kecuali membuat sabun. Saat itu umurnya baru 15 tahun, tetapi ia merasa sudah cukup besar untuk merantau dan berdiri sendiri.

“Berani engkau berangkat sendiri ke kota besar itu, Nak?” tanya ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan.

“Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang sebelum orang itu sendiri yang mengubah nasibnya, Ayah!” jawab Samuel, mantap.

Ayahnya hanya bisa memberkati Samuel dengan doa. “Semoga keberhasilan menyertai perjalananmu, Nak,” kata Ayahnya.

Maka, dibungkusnyalah pakaian serta semua alat yang diperlukannya untuk membuat sabun dan ia pun berangkat.

Ketika menaiki kapal yang menyeberangkannya lewat sungai, Samuel bertemu dengan Kapten Kapal yang dikenalnya. Kapten Kapal itu adalah sahabat ayahnya. Umurnya juga sudah tua, tetapi ia baik hati dan hidupnya selalu tampak ceria. Hal ini terpancar dari wajahnya. Samuel tahu, sahabat ayahnya itu adalah orang saleh dan penganut agama yang teguh. Samuel sangat senang bertemu dengannya.

“Mau ke mana engkau, Samuel? Dan, bungkusan apa yang kaubawa itu?” tanya Kapten Kapa.

Samuel menjawab bahwa ia akan berangkat ke New York untuk mencari nafkah sendiri dengan membuat sabun dan lilin.

“Perusahaan Ayahku bangkrut,” jelas Samuel.

“Bagus sekali tekadmu itu. Tetapi, sebelum sampai di tanah New York, maukah engkau kuberi nasihat? Mari kita berdoa dulu kepada Tuhan di dalam,” kata Kapten Kapal sambil mengajak Samuel ke ruang nahkoda.

Di ruangan itu, mereka pun berlutut dan Kapten Kapal itu meminta rahmat Tuhan atas diri Samuel dalam perantauannya di kota besar itu. Setelah itu mereka berdiri kembali.

Kapten Kapal yang sudah tua itu pun berkata, “Nah, sekarang dengarlah nasihatku. Engkau akan membuat sabun di kota New York. Itu bagus sekali. Kini belum ada perusahaan sabun yang sanggup menguasai pasaran sabun di sana. Kalau tidak hari ini tentu besok akan muncul seseorang dari kalangan tukang-tukang sabun itu yang akan menempati kedudukan tertinggi. Mungkin orang lain, tapi mungkin juga engkau. Saya berharap orang yang akan sukses itu adalah engkau. Jagalah dirimu baik-baik.

Berikan hatimu kepada Tuhan berapa yang menurut pikiranmu harus kau serahkan kepadaNya. Kau pun harus banyak beramal, membantu orang-orang miskin. Hiduplah dengan jujur dan jangan sesekali menipu. Buatlah sabun yang baik dan saya yakin engkau kelak akan kaya!”

Sebentar kemudian, sampailah kapal di pelabuhan. Samuel menyalami Kapten yang baik hati itu dan mengucapkan terima kasih. Nasihat lelaki tua itu akan diingatnya benar. Lalu, ditinggalkannya sahabatnya itu dan berangkat menuju kota New York yang baru pertama kali itu dikunjunginya.

Mula-mula sangat susah baginya mencari pekerjaan. Tetapi Samuel bukan orang yang lekas putus asa atau seorang pemalas. Hatinya tetap teguh dan berkat rajinnya ia berjalan mencari pekerjaan, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang gajian harian di suatu perusahaan sabun yang sedang berkembang.

Selama berada di kota besar itu, ia tidak pernah lupa akan nasihat lelaki tua di kapal itu. Ia pun rajin dating ke gereja. Di sana disumbangkannya sepersepuluh dari gajinya, yakni sepuluh sen, untuk rumah Tuhan. Majikannya senang melihat pekerjaan Samuel. Anak itu rajin, cekatan, dan tidak pernah mengeluh. Perusahaan sabun itu pun maju pesat. Tidak berapa lama kemudian, Samuel diangkat menjadi pegawai tetap dan gajinya tidak lagi harian, melainkan bulanan. Sudah tentu penghasilan Samuel lebih besar dari sebelumnya. Samuel semakin rajin pula datang ke rumah Tuhan dan menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk orang-orang miskin. Dengan beramal, uang Samuel bukan berkurang, tetapi justru bertambah. Bahkan dengan uang tabungannya, lambat laun ia sanggup membeli sebagian saham dari perusahaan sabun tersebut.

Sekarang Samuel telah masuk ke dalam golongan orang berada di kota New York, tetapi ia tidak pernah lupa menyerahkan sepersepuluh dari seluruh pandapatannya untuk rumah Tuhan.

Kini yang sepersepuluh itu bukan lagi 10 sen, melainkan ribuan dollar. Dan hartanya kian hari kian bertambah juga. Lalu disumbangkannya dua persepuluh, tiga persepuluh, bahkan hingga empat persepuluh kepada orang-orang miskin yang butuh bantuan, kekayaannya justru semakin berlipat ganda. Ia sama sekali tidak mengerti dengan keajaiban tersebut, tapi ia percaya bahwa semua ini terjadi adalah berkat kuasa Tuhan. Kemudian diberikannya setengah dari pendapatannya kepada Tuhan, namun perusahaannya semakin bertambah maju juga. Akhirnya seluruh pendapatannya diserahkannya bulat-bulat kepada Tuhan, dan keuntungan perusahaan hingga sekarang ternyata masih bertambah-tambah juga.

“O, demikianlah rupanya Tuhan memberi rahmat-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya,” gumam Samuel semakin meyakini adanya Tuhan.

Namun dari semua itu, satu hal yang tidak pernah dilupakannya seumur hidupnya adalah nasihat Kapten Kapal saat ia menyeberang sungai untuk pertama kalinya menuju kota New York. Sayang, lelaki tua yang baik hati itu sudah meninggal dunia.

Siapakah sesungguhnya Samuel itu? Nama lengkapnya adalah Samuel Colgate, dan nama Colgate ini sekarang terkenal dengan produk-produk sabun, minyak wangi, sampo, obat gosok gigi dan barang-barang lainnya yang menyebar ke seluruh dunia.

No comments:

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



Faye Wong - Eyes on Me